
Kuala Lumpur, 17 September 2026 – UIN Salatiga kembali melakukan kunjungan resmi ke Universiti Malaya dalam rangka pembaruan Memorandum of Understanding (MoU) dan penguatan joint research expo. Agenda penandatanganan dan pembahasan kerja sama tersebut diwakili dan disepakati langsung oleh salah satu dosen senior Fakulti Pendidikan Universiti Malaya, Dr. Abd Razak Zakaria (Mr. Rozak).
Ibu Marisa Fran Lina, M. Pd, selaku Kepala Pusat Kerjasama Internasional mengatakan, “Kesepatan kerja sama dengan UM sudan berlangsung sejak 2023, dan tahun ini kita siap memperbarui lagi. Semoga kerjasama ini terus berlanjut ke depannya.”

”Jangan Takut Broken English, Just Go and Try” — Pesan Mr. Rozak dari University of Malaya untuk Mahasiswa UIN Salatiga.
Menyambut hangat kehadiran delegasi UIN Salatiga, Mr. Rozak memberikan dorongan dan motivasi kepada sembilan mahasiswa UIN Salatiga untuk berani menembus kancah internasional dengan melanjutkan studi program magister ke luar negeri melalui peningkatan keterampilan berbahasa Inggris. Pesan tersebut disampaikan dalam kuliah tamu bertema ”Peluang Studi & Dunia Kerja di Malaysia + Tips Bahasa Inggris” yang menjadi salah satu bagian dari rangkaian International Mobility Program (IMOP) 2026 UIN Salatiga di Universiti Malaya, Kamis (17/9/2026).
Bapak Hammam, Ph. D selaku ketua LP2M, ketua perwakilan dari UIN Salatiga memperkenalkan masing-masing delegasi dosen dan mahasiswa. Dari lini dosen yaitu Bapak Miftachuddin, M.A sebagai Kepala Pusat Penelitian LP2M dan juga Ibu Juwita Artanti Kusumaningtyas, M. Sc. selaku Kepala Prodi Teknologi Informasi.
Selanjutnya, dari pihak UM Mr. Rozak memperkenalkan Universiti Malaya sebagai universitas nomor 1 di Malaysia. Beliau juga menjelaskan bahwa program magister di Universiti Malaya dapat ditempuh dalam empat semester, dengan tiga semester perkuliahan dan satu semester untuk riset atau tesis. Dalam penjelasannya, Mr. Rozak juga menyampaikan bahwa mahasiswa pascasarjana memiliki akses terhadap berbagai fasilitas penunjang, termasuk asrama dan ruang riset.
Menurut Mr. Rozak, terdapat sejumlah skema beasiswa yang dapat dimanfaatkan mahasiswa yang berniat untuk melanjutkan studi di Universiti Malaya. Namun, kemampuan bahasa Inggris menjadi salah satu aspek yang paling penting dan perlu dipersiapkan secara matang oleh mahasiswa. Beliau berpesan akan pentingnya keberanian menggunakan Bahasa Inggris dalam percakapan sehari-hari. Mr. Rozak turut memotivasi mahasiswa UIN Salatiga agar tidak takut melakukan kesalahan ketika berbicara. Menurutnya, kepercayaan diri dapat dibangun melalui latihan sederhana yang dilakukan secara konsisten.
Mr. Rozak menyampaikan bahwa kemampuan berbahasa Inggris tidak hanya dibangun melalui pembelajaran di kelas, tetapi juga melalui keberanian untuk menggunakan bahasa tersebut dalam kehidupan sehari-hari dan menghadapi lingkungan baru.
“Present yourself in confidence, not my name is… but I’m… It’s still 6 score. Practice makes perfect. Practice simple things then learn to talk. You have to go and read. Challenge yourself and go abroad to learn English.”
Selain membahas peluang studi, Mr. Rozak turut menjelaskan mengenai kehidupan mahasiswa di Kuala Lumpur, termasuk peluang untuk memperoleh pengalaman kerja. Menurutnya, lingkungan Kuala Lumpur, terutama di sekitar Universiti Malaya menyediakan banyak kesempatan bagi mahasiswa yang ingin mencari pekerjaan paruh waktu, sehingga mahasiswa dapat memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mandiri secara finansial sekaligus memperluas pengalaman kerja setelah kegiatan perkuliahan berakhir. Meski terdapat begitu banyak peluang, Mr. Rozak menegaskan bahwa penyelesaian studi tetap harus menjadi fokus utama mahasiswa.
Tidak hanya mengikuti kuliah tamu, sembilan mahasiswa delegasi IMOP 2026 UIN Salatiga juga mendapat kesempatan mempresentasikan proposal penelitian dalam sesi Joint Research Expo di Universiti Malaya. Sembilan mahasiswa tersebut berasal dari berbagai program studi dengan topik penelitian yang beragam, mulai dari komunikasi, pendidikan, bisnis, studi Islam, psikologi, teknologi informasi, hingga hukum keluarga Islam.

Dari bidang Komunikasi dan Penyiaran Islam, Raihan Jabran mempresentasikan penelitian mengenai keberlanjutan sosial melalui komunikasi urban di Kota Salatiga sebagai kota multikultural. Penelitian tersebut melihat bagaimana komunikasi, ruang publik, dan interaksi sosial dapat berperan dalam membangun kehidupan masyarakat yang inklusif.
Sementara itu, dari bidang Tadris Bahasa Inggris, Marsya Zaskiandra Wardani mengangkat pengaruh lingkungan dan interaksi kelas terhadap motivasi siswa dalam pembelajaran bahasa Inggris. Topik serupa mengenai pembelajaran bahasa juga dibahas Arofah Nungky Widiyani melalui penelitian mengenai penerapan program English Day dan pengaruhnya terhadap kemampuan berbicara bahasa Inggris siswa SMA.
Di bidang Manajemen Bisnis Syariah, Husein Maulana Abdussalam membahas daya saing dan ketahanan Warung Madura di Kota Salatiga di tengah persaingan dengan ritel modern. Penelitiannya menyoroti sejumlah aspek, seperti aksesibilitas, kenyamanan, jam operasional, hubungan dengan pelanggan, harga, dan ketersediaan produk.
Sementara dari bidang keislaman, Najwa Izzatul Afifah dari Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir mengangkat rekonstruksi etika musyawarah dalam Tafsir Ayat Suci Lenyepaneun berbasis budaya Sunda sebagai upaya kontekstualisasi penafsiran Al-Qur’an. Adam Baihaqi dari Bahasa dan Sastra Arab membahas identitas linguistik lokal dalam penggunaan bahasa Arab, khususnya pengaruh bahasa dan aksen Jawa terhadap pelafalan siswa MAPK Al-Hikmah 2 Brebes.
Penelitian lainnya datang dari Masayu Sekar Kinaryosih dari Psikologi Islam yang mempresentasikan pengembangan awal skala secure attachment berbasis konsep budaya Indonesia. Penelitian tersebut mencakup aspek kepercayaan relasional, kenyamanan dengan kedekatan, dan otonomi eksploratif sebagai bagian dari pilot study menuju model yang lebih sensitif terhadap konteks budaya.
Dari bidang Teknologi Informasi, Valencia Erlinda membandingkan strategi penanggulangan disinformasi di Indonesia dan Malaysia dengan melihat pendekatan grassroot atau bottom-up serta pendekatan state-led atau top-down. Sementara itu, Intan Nuri Mardiyani dari Hukum Keluarga Islam mengangkat fenomena man marry down, yakni kondisi ketika laki-laki menikah dengan perempuan yang memiliki status sosial, ekonomi, atau pendidikan lebih rendah, untuk melihat fenomena tersebut dari perspektif hukum Islam dan budaya patriarki.
Keberagaman topik tersebut menunjukkan luasnya perspektif akademik yang dibawa mahasiswa UIN Salatiga dalam kegiatan IMOP 2026. Joint Research Expo juga menjadi kesempatan bagi para mahasiswa untuk menyampaikan gagasan penelitian dalam lingkungan akademik internasional sekaligus memperoleh pengalaman berkomunikasi dan bertukar wawasan dengan peserta dari latar belakang yang berbeda.
Melalui rangkaian kegiatan di Universiti Malaya, mahasiswa UIN Salatiga tidak hanya memperoleh informasi mengenai peluang studi dan dunia kerja di Malaysia, tetapi juga mendapatkan pengalaman untuk berani berkomunikasi, mempresentasikan gagasan, serta membuka wawasan akademik di lingkungan internasional. (R.I.M.V. ed. MFL)
Kontak Media / Informasi Lebih Lanjut: Kantor Urusan Internasional (KUI) LP2M UIN Salatiga, Gedung LP2M, Kampus Terpadu UIN Salatiga, Jl. Lingkar Salatiga Km. 2, Kota Salatiga, Jawa Tengah.
