Perkuat Jejaring Internasional, KUI UIN Salatiga Simak Peluang Kolaborasi Global dalam Seminar UNESCO

SALATIGA – Kantor Urusan Internasional (KUI) UIN Salatiga menunjukkan komitmennya dalam memperluas cakrawala kerja sama global dengan menghadiri webinar bertajuk “Sistem Pendidikan dan Peluang Kolaborasi Berbagai Negara, serta Global Vibes, Local Impact: UNESCO dan Indonesia” yang diselenggarakan pada Selasa, 5 Mei 2026.

Acara yang mempertemukan pemikiran dari Wakil Delegasi Tetap RI untuk UNESCO, Igak Satrya Wibawa, dan Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU), Ananto Kusuma Seta ini, membedah peran strategis UNESCO dalam memajukan pendidikan, sains, dan kebudayaan di Indonesia.

Pendidikan sebagai Pilar Utama

Dalam sesi pertama, Igak Satrya Wibawa menekankan bahwa pendidikan adalah forum utama UNESCO karena menjadi mesin penggerak bagi sektor kebudayaan dan sains. Beliau menjelaskan bahwa Indonesia telah lama memanfaatkan keanggotaan ini untuk mengadopsi standar internasional ke dalam kebijakan nasional.

Bagi institusi pendidikan seperti UIN Salatiga, webinar ini menyoroti berbagai peluang nyata, di antaranya:

  • Kerja Sama Riset: Kolaborasi universitas melalui riset, pelatihan, dan transfer pengetahuan.
  • Peluang Beasiswa: Akses informasi beasiswa di berbagai negara anggota.
  • UNESCO Digital Library: Akses terbuka ke sumber pengetahuan dunia untuk mendukung akademisi.

Dampak Lokal dan Pengakuan Internasional

Ananto Kusuma Seta memaparkan perjalanan panjang dampak UNESCO di Indonesia, mulai dari pemberantasan buta huruf tahun 1951 hingga pengakuan Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi Sidang Umum UNESCO sejak 2023. Indonesia kini memiliki posisi tawar yang kuat dengan 12 Global Geopark dan 16 warisan dokumenter (Memory of the World) yang diakui dunia.

“UNESCO diibaratkan sebagai samudra ilmu pengetahuan, tempat negara-negara belajar dan bekerja sama tanpa henti,” ujar moderator Semi Hemawardani merangkum diskusi tersebut. Langkah Strategis KUI UIN Salatiga

Keikutsertaan KUI UIN Salatiga dalam forum ini menjadi langkah strategis untuk menjajaki pembentukan UNESCO Chairs di lingkungan kampus, menyusul jejak universitas besar lain seperti UGM dan Universitas Pancasila yang telah lebih dulu memiliki fokus pada keanekaragaman hayati dan komunikasi berkelanjutan.

Melalui pemahaman mendalam mengenai program seperti UNESCO Associated School Network (ASPNet) dan International Teacher Taskforce, KUI UIN Salatiga optimis dapat terus mendorong dosen dan mahasiswa untuk terlibat dalam kancah internasional, baik melalui joint research maupun pengabdian masyarakat berbasis standar global. (AR/MFL)

Link paparan: 1 week presentations: Paparan Narasumber UNESCO – Google Drive