Bappeda Kota Salatiga Gandeng Kapus PSGA UIN Salatiga dalam Diseminasi Hasil Riset Isu Strategis SDGs, Ungkap Ketimpangan di Balik Data Kesetaraan Gender

Dalam rangka memperingati semangat R.A. Kartini sekaligus memperkuat komitmen terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, Dr. Aprilian Ria Adisti, M.Pd. selaku Kepala Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) UIN Salatiga menjadi narasumber dalam kegiatan sosialisasi SDGs/Diseminasi Isu Strategis SDGs.

Kegiatan bertema “Transformasi Pemikiran Kartini: Dari Emansipasi Menuju Partisipasi Aktif dalam SDGs” ini dilaksanakan pada Kamis, 23 April 2026, bertempat di Ruang Tamansari Gedung Setda Salatiga.

Acara ini diikuti oleh berbagai unsur, mulai dari perguruan tinggi yang terdiri atas mahasiswa dan dosen, unsur Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait, organisasi mahasiswa ekstra kampus, hingga komunitas dan NGO yang bergerak di bidang sosial dan pemberdayaan.

Dalam pemaparannya, Dr. Aprilian mengajak peserta untuk memahami bahwa capaian kesetaraan gender tidak bisa hanya dilihat dari data kuantitatif semata. Ia menjelaskan bahwa sering kali data menunjukkan kondisi yang tampak “positif”, seperti jumlah perempuan yang lebih banyak dalam suatu lingkungan. Namun, realitas tersebut belum tentu mencerminkan kesetaraan yang sesungguhnya.

“Di beberapa lingkungan, jumlah perempuan bisa lebih banyak dibandingkan laki-laki, tetapi posisi kepemimpinan tetap didominasi oleh laki-laki. Ini menunjukkan bahwa kesetaraan belum benar-benar terwujud,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa persoalan utama bukan hanya terletak pada akses, melainkan juga pada relasi kuasa yang belum setara. Menurutnya, perempuan saat ini mungkin telah memiliki akses pendidikan yang lebih luas, bahkan hingga jenjang tinggi, namun belum sepenuhnya memiliki kedaulatan atas pilihan hidupnya.

Sebagai solusi, Dr. Aprilian menegaskan pentingnya pendidikan yang berkeadilan sebagai fondasi utama. Ia merujuk pada Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 31 yang menjamin bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan tanpa diskriminasi.

“Pendidikan adalah hak semua warga negara. Namun, yang perlu kita dorong adalah pendidikan yang benar-benar inklusif dan adil, sehingga mampu membongkar ketimpangan relasi kuasa dan membuka ruang bagi perempuan untuk berdaya,” tegasnya. Melalui kegiatan ini, diharapkan seluruh peserta dapat menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing dengan mengintegrasikan nilai-nilai kesetaraan gender dalam berbagai program pembangunan. Semangat R.A. Kartini pun diharapkan terus hidup, tidak hanya sebagai simbol emansipasi, tetapi sebagai inspirasi menuju partisipasi aktif dan keadilan gender dalam pembangunan berkelanjutan. (adm)