Kolaborasi Internasional Warnai Pendampingan PSGA UIN Salatiga pada Program Kampung Responsif Gender dan Anak, Tingkatkan Literasi, Critical Thinking, dan Komunikasi Global Siswa MTs Maarif NU 01 Salatiga

.

Pada hari Rabu, 6 Mei 2026, Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) LPPM UIN Salatiga yang dipimpin oleh Dr. Aprilian Ria Adisti, M.Pd. sukses menyelenggarakan kegiatan bertajuk “Pendampingan Kampung Responsif Gender dan Anak”. Program ini mengangkat tema “Peningkatan Literasi dan Critical Thinking” yang dikemas secara inovatif melalui pelatihan bahasa Inggris bagi 62 siswa-siswi MTs Ma’arif NU 01 Salatiga.

Kegiatan ini turut melibatkan 14 mahasiswa volunteer dari UIN Salatiga, termasuk 5 mahasiswa internasional yang berasal dari Gambia dan Filipina. Selain itu, partisipasi juga datang dari 6 mahasiswa kelas khusus internasional (KKI) serta 3 anggota UKM Communicative English Club (CEC). Kolaborasi lintas budaya dan latar belakang ini memberikan nuansa pembelajaran yang dinamis sekaligus memperkaya pengalaman peserta.

Tujuan utama kegiatan ini adalah memberikan pendampingan kepada siswa dalam memahami dan menganalisis berbagai isu aktual yang kerap dihadapi remaja, khususnya dalam bidang pendidikan dan kehidupan sosial. Beberapa isu yang diangkat meliputi ketergantungan terhadap penggunaan gadget, bahaya merokok, pola makan tidak sehat, stres di lingkungan sekolah, dinamika pertemanan, kecanduan game, hingga permasalahan bullying.

Selama kurang lebih tiga jam, para siswa mengikuti sesi penyampaian materi secara interaktif, kemudian dilanjutkan dengan kegiatan *project-based learning*. Dalam sesi ini, siswa diminta untuk membuat poster yang mengangkat isu-isu remaja pilihan mereka. Proses pengerjaan proyek dilakukan dengan pendampingan intensif dari para mentor mahasiswa, sekaligus menjadi sarana praktik penggunaan bahasa Inggris secara langsung.

Menariknya, sepanjang kegiatan berlangsung, siswa didorong untuk menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa utama dalam berkomunikasi dan berinteraksi. Kegiatan ditutup dengan presentasi hasil proyek dalam bahasa Inggris, yang tidak hanya melatih kemampuan berbicara, tetapi juga meningkatkan rasa percaya diri siswa.

Indikator keberhasilan kegiatan ini tercapai dengan baik. Para siswa menunjukkan kemampuan dalam menganalisis isu-isu remaja secara kritis, sekaligus mengasah keterampilan berbahasa Inggris, khususnya dalam menyampaikan gagasan melalui presentasi. Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya berkontribusi pada peningkatan literasi, tetapi juga membentuk pola pikir kritis dan keterampilan komunikasi global bagi para peserta.