Eksplorasi Sistem Pendidikan dan Peluang Kolaborasi Internasional di Tiongkok, Korea Selatan, dan Jepang melalui Webinar Series ATDIKBUD

SALATIGA – Kantor Urusan Internasional (KUI) UIN Salatiga kembali menunjukkan komitmennya dalam memperluas jejaring global melalui partisipasi aktif dalam Webinar Series Atase Pendidikan dan Kebudayaan (ATDIKBUD) serta Wakil Delegasi Tetap RI-UNESCO. Pada sesi lanjutan ini, webinar mengupas secara komprehensif sistem pendidikan, skema beasiswa, serta peluang kolaborasi akademik di tiga negara maju kawasan Asia Timur, yakni Tiongkok, Korea Selatan, dan Jepang.

Dinamika Sistem Pendidikan dan Peluang Kerja Sama di Tiongkok

Dalam pemaparannya, Dr. Lestari Puspitaningsi selaku ATDIKBUD KBRI Beijing menjelaskan bahwa sistem pendidikan di Tiongkok memiliki struktur yang ketat dan kompetitif, didukung oleh kebijakan nasional yang terpusat.

Beberapa poin penting yang disampaikan meliputi:

● Struktur Pendidikan K-12: Sistem pendidikan terdiri dari jenjang SD (6 tahun), SMP (3 tahun), dan SMA (3 tahun) dengan intensitas belajar tinggi, bahkan mencapai 8–9 jam per hari serta tambahan belajar mandiri.

● Sistem Seleksi Nasional: Ujian Zhongkao dan Gaokao menjadi instrumen utama seleksi siswa menuju jenjang pendidikan berikutnya, dengan sistem penilaian Gaokao berbasis skema “3+1+2”.

● Inisiatif Pendidikan Tinggi: Program strategis seperti C9 League, Proyek 211, Proyek 985, dan Double First-Class menjadi pilar utama dalam pengembangan universitas kelas dunia.

● Peluang Beasiswa: Tersedia berbagai skema seperti Chinese Government Scholarship (CGS), Confucius Institute Scholarship, Belt and Road Scholarship, serta dukungan LPDP.

● Kolaborasi Pendidikan: Kerja sama meliputi student exchange, double degree, joint research, hingga program vokasi seperti Luban Workshop serta penguatan Confucius Institute di Indonesia.

Transformasi Pendidikan dan Peluang Kolaborasi di Korea Selatan

Sesi berikutnya menghadirkan Dr. Amalia Fitriah selaku ATDIKBUD KBRI Seoul yang memaparkan pesatnya perkembangan pendidikan Korea Selatan yang didukung oleh kemajuan ekonomi dan strategi internasionalisasi.

Beberapa poin utama antara lain:

● Sistem Pendidikan 6-3-3: Pendidikan formal terdiri dari SD, SMP, dan SMA dengan spesialisasi kurikulum sejak dini serta budaya belajar yang sangat kompetitif.

● Institusi Unggulan: Perguruan tinggi ternama seperti kelompok “SKY” dan KAIST menjadi pusat keunggulan akademik global.

● Proyek Internasionalisasi: Program Study Korea 300K menargetkan 300.000 mahasiswa internasional pada tahun 2027 sebagai solusi krisis demografi.

● Skema Beasiswa: Global Korea Scholarship (GKS), KOICA, serta berbagai beasiswa universitas menjadi daya tarik utama bagi mahasiswa internasional.

● Kolaborasi Akademik: Program ODA seperti LUPIC, pertukaran dosen, serta penguatan BIPA dan Indonesia Center menjadi bentuk nyata kerja sama bilateral.

Sistem Pendidikan dan Strategi Studi di Jepang

Pada sesi terakhir, Prof. Dr. Amzul Rifin selaku ATDIKBUD KBRI Tokyo memaparkan sistem pendidikan tinggi Jepang yang dikenal memiliki ekosistem riset yang kuat dan terstruktur.

Beberapa poin penting meliputi:

● Tipe Universitas: Terdiri dari National Universities, Public Universities, dan Private Universities dengan jumlah institusi yang sangat besar dan beragam.

● Sumber Pembiayaan: Mayoritas mahasiswa Indonesia di Jepang didukung oleh beasiswa MEXT, LPDP, serta beasiswa lainnya maupun pembiayaan mandiri.

● Peluang Beasiswa: Skema utama meliputi MEXT, LPDP, serta berbagai beasiswa lembaga dan industri seperti JASSO, Ajinomoto, dan Mitsui Bussan.

● Strategi Studi: Pendekatan personal melalui relasi dengan sensei, konferensi, dan jejaring akademik dinilai lebih efektif dibandingkan komunikasi formal semata.

● Ekosistem Riset: Jepang memiliki budaya riset yang disiplin, dukungan pendanaan besar, serta kolaborasi kuat antara pemerintah, akademisi, dan industri.

Informasi dan Tindak Lanjut

Melalui pemetaan peluang di wilayah Asia Timur ini, KUI UIN Salatiga berkomitmen untuk segera menindaklanjuti potensi kerja sama double degree, joint research, dan pemanfaatan skema beasiswa bagi dosen serta mahasiswa. 

​Rangkaian webinar ini akan disambung dengan sesi selanjutnya pada Senin, 4 Mei 2026, yang akan menghadirkan ATDIKBUD dari Washington DC dan Moskow. (Ab/ed.mfl)